Jangan abaikan imunisasi rutin anak, meski ada pandemi COVID-19

TerSurat.com Yogyakarta – 22 April 2021 – Pandemi COVID-19 juga memengaruhi jadwal vaksinasi anak. Tak sedikit orang tua yang enggan membawa anaknya ke rumah sakit atau puskesmas untuk divaksinasi karena takut tertular virus yang telah menginfeksi jutaan orang di seluruh dunia. Program vaksinasi ditujukan untuk orang yang berusia 18 sampai 59 tahun tanpa penyakit penyerta atau penyakit penyerta. Sebelum vaksinasi, petugas akan meninjau dan menanyakan tentang rekam medis Anda. Orang-orang di luar kelompok diharapkan menunggu sampai ada vaksin yang aman untuk para lansia atau mereka yang memiliki penyakit penyerta. Pengidap penyakit komorbid serius seperti kanker, tekanan darah tinggi atau diabetes tidak dilibatkan dalam program vaksinasi COVID-19 di Indonesia. Oleh karena itu, pasien ini harus melindungi diri mereka sendiri melalui penggunaan 3M yang ketat dan disiplin. Perlu dicatat bahwa vaksin yang tersedia saat ini tidak mencegah seseorang tertular dan menularkan virus penyebab COVID-19. Metode uji klinis yang digunakan untuk vaksin hanya dimaksudkan untuk meredakan gejala dan risiko kematian saat terinfeksi COVID-19.

Baca juga: Ketahuilah Keamanan, Efek Samping, dan Semua Tentang Vaksin COVID-19

Imunisasi adalah layanan kesehatan penting yang melindungi orang yang rentan dari penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I). Dengan memberikan vaksinasi tepat waktu, individu dan komunitas ini dapat tetap terlindungi dan kemungkinan wabah PD3I dapat dikurangi.

Prof. DR. DR. Soedjatmiko, SpA (K), Msi Pediatrician / ITAGI menyatakan bahwa semua negara menyadari bahwa vaksinasi aman dan bermanfaat dalam mencegah penyakit serius, kecacatan dan kematian. “Maka negara-negara berusaha memberikan vaksin gratis kepada rakyatnya untuk membantu bayi dan remaja terhindar dari penyakit dan kematian,” ujarnya dalam dialog produktif tentang Imunisasi Penting Ditengah Pandemi yang dipandu dan disiarkan oleh KPCPEN akan di FMB9ID_IKP, Kamis (22). / 4).

Penyakit seperti difteri, campak, pneumonia yang menetap dan penularan harus ditekan. Sebelum pandemi COVID-19, banyak bayi yang berisiko terkena penyakit tersebut, sedangkan pada saat pandemi COVID-19, penyakitnya tampak seperti penyakitnya sudah menurun. “Namun jika vaksinasi tidak dilakukan secara maksimal, terutama pada bayi yang lahir sejak tahun 2020, kemungkinan ada wabah baru selain COVID-19,” kata Prof. Soedjatmiko.

Menurut Rizky Ika Safitri, spesialis komunikasi dan pembangunan UNICEF, Indonesia melakukan survei di Kementerian Kesehatan pada awal pandemi. “Ada lebih dari 5.000 posyandu dan puskesmas yang mengaku mengalami gangguan, seperti dihentikannya beberapa layanan vaksinasi rutin. Para orang tua juga prihatin untuk mengimunisasi anaknya karena bagaimana keadaan mereka saat pandemi COVID-19,” jelasnya.

Untuk itu, pemerintah telah mengeluarkan pedoman pelayanan vaksinasi di Puskesmas dan Posyandu melalui Kementerian Kesehatan. Ada empat poin kunci: “Perlu menjaga jarak, antara dan bukan pasien COVID-19, penjadwalan diatur agar tidak terlalu padat, dan ditekankan untuk menjaga protokol 3M untuk semua petugas kesehatan dan pasien puskesmas dan posyandu, “kata Rizky.

Berlangsung setiap minggu keempat bulan April, Pekan Vaksinasi Sedunia menjadi pengingat bagi semua pihak, baik pemerintah maupun masyarakat, akan pentingnya vaksinasi untuk mencegah morbiditas, kecacatan, dan kematian akibat penyakit berbahaya yang sebenarnya dapat dicegah.

“Jika jumlahnya masih terbatas, kita bisa bantu dengan informasi dari kader, ibu-ibu PKK, bahkan melalui media sosial untuk gencar mengingatkan masyarakat agar rutin melakukan vaksinasi.” saran Prof Soedjatmiko.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *