COVID-19 dapat menular melalui toilet umum. Bagaimana menghindarinya

COVID-19 dapat menular melalui toilet umum. Bagaimana menghindarinya???

TerSurat.com Yogyakarta – Toilet umum merupakan salah satu tempat dengan potensi penyebaran COVID-19 terbesar. Ini tidak hanya ditularkan melalui virus yang menempel di pintu dan bilik, tetapi juga melalui cipratan air yang keluar dari toilet saat Anda menyiramnya. Ini dilaporkan dalam studi baru yang diterbitkan dalam jurnal Physics of Fluid.

Baca Juga : Risiko penyebaran COVID-19 di kereta dan pencegahan

Para peneliti menemukan bahwa SARS-CoV-2, virus penyebab COVID-19, dapat terbawa dalam semprotan air toilet hingga mencapai ketinggian tertentu di udara. Jika Anda tidak berhati-hati, percikan api bisa masuk ke saluran napas Anda. Seperti apa prosesnya dan bagaimana Anda bisa menghindarinya?

1. Virus COVID-19 di air toilet

Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa COVID-19 berpotensi menyebar melalui kotoran orang yang terinfeksi. Kemungkinannya memang tipis dan belum ada laporannya, tapi bukan berarti bisa diabaikan. Penularan COVID-19 melalui feses kemungkinan besar terjadi di ruang terbuka, terutama toilet umum. Untuk melihat seberapa besar risikonya, beberapa peneliti di American Institute of Physics menggunakan kalkulasi komputer untuk membuat model prediktif. Ketika seseorang positif COVID-19 mengeluarkan kotoran, virus dari kotorannya akan bercampur dengan air toilet. Model prediksi menunjukkan bahwa jika pasien positif menyiram toilet tanpa menutupnya, mungkin ada percikan air dengan virus di udara.

Air di toilet membentuk pusaran saat disiram. Ketika ada pusaran, air bertabrakan satu sama lain dan menciptakan percikan air yang sangat halus (aerosol). Aerosol bisa mengandung virus corona, kemudian dihirup atau menempel pada benda di sekitarnya. Aerosol bisa melayang di udara dengan waktu yang lama hingga bisa bertahan berjam-jam karena ukurannya jauh lebih kecil dari cipratan air biasa Seperti sebuah kabut. Aerosol dari toilet siram juga bisa mencapai ketinggian lebih dari satu meter, bahkan bisa jadi lebih tinggi jika di toilet jenis tertentu. COVID-19 pada dasarnya ditularkan melalui tetesan (percikan cairan yang keluar saat pasien batuk, berbicara, atau bersin). Bahaya penularan aerosol memang ada, tetapi para ahli hanya akan menemukannya di rumah sakit.

Tetesan bisa berubah menjadi aerosol saat dokter menangani pasien COVID-19 yang telah berhenti bernapas. Prosedur yang ditentukan dapat mengubah cairan pernapasan pasien menjadi aerosol dan membuat personel medis berisiko terkena infeksi.Padahal, mekanisme serupa bisa terjadi saat Anda menggunakan toilet. Karenanya, Anda perlu waspada saat menggunakan fasilitas umum seperti toilet umum. Meski begitu, Anda tidak perlu khawatir karena ada cara sederhana untuk mencegah hal tersebut terjadi.

2. Haruskah Anda Berhenti Menggunakan Toilet Umum?

Meskipun risikonya nyata, penting untuk diingat bahwa hasil peneliti adalah hasil simulasi. Anda belum melakukan pengamatan nyata dengan orang-orang dan penggunaan toilet yang sebenarnya. Berdasarkan penelitian ini, seharusnya banyak orang yang mengembangkan COVID-19 akibat menggunakan toilet. Toilet umum harus menjadi sumber utama penularan COVID-19.

Kabar baiknya, belum ada satu pun laporan penularan COVID-19 dari aerosol toilet. Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC), tidak ada penelitian yang memastikan seberapa besar risikonya. Cara utama penularan COVID-19 tetap tetesan dari pasien positif batuk atau bersin. Karenanya, metode pencegahan utama masih menjaga jarak secara fisik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *