Sejarah Barbershop yang mungkin belum kamu ketahui

Sejarah Barbershop yang mungkin belum kamu ketahui

Yogyakarta, tersurat.com – Berbicara tentang Barbershop mungkin kalian semua sudah mengetahui apa itu Barbershop, tapi apakah kalian mengetahui asal mula Barbershop ? Barbershop sendiri berasal dari bahasa latin “barba” yang artinya jenggot, yang dimiliki oleh mayoritas pria. Sehingga Barbershop bukanlah salon biasa, namun salon yang memang khusus untuk Pria.

    Baca juga : Tertarik dengan Bisnis Barbershop? 7 tips memulai bisnis barbershop yang perlu kamu pahami

Sejarah Awal barbershop

Barbershop pertama kali didirikan sekitar 400 SM. Didirikan di wilayah Makedonia dan tersebar di seluruh negara Mesir dan beberapa wilayah lainnya.

Pada zaman dahulu, ternyata pencukur rambut tidak hanya sebatas mencukur rambut, tetapi juga melakukan operasi bedah ringan seperti yang dilakukan oleh tabib yang juga ahli mencabut gigi dan menghisap darah dengan lintah, yang dapat digunakan sebagai pengobatan.

Bahkan para pemimpin Prancis memberikan izin mereka untuk berlatih dan belajar bedah profesional di Fakultas Kedokteran Universitas Paris. Selain itu, pemerintah Prancis membagi dua jenis pengobatan, yaitu ahli bedah profesional (dokter) dan ahli bedah amatir (Tukang cukur). Salah satu orang yang berhasil menjadi tukang cukur sekaligus ahli bedah adalah Ambroise Pare, yang namanya kini mendunia.

Disamping Ambroise Pare, bukti bahwa penata rambut juga seorang ahli bedah pada saat itu adalah simbol lampu yang menjadi ciri khas sebuah barbershop.

Lampu tersebut sebenarnya memiliki cerita filosofis tersendiri warna merah berasal dari darah, biru berarti pembuluh darah dan putih berarti perban steril. Sedangkan bentuk spiral pada lampu menandakan balutan sedang dicuci, basah kemudian di peras dan menjadi kering. Meskipun tukang cukur pada saat itu dikenal karena keahliannya di bidang bedah, sayangnya kedua profesi tersebut telah dipisahkan dan sangat berbeda sejak abad ke-19. Pencukur rambut tidak lagi diizinkan menjadi ahli bedah.

Baca Juga  5 Tanda anak merasa tertekan yang wajib orang tua ketahui

Meski baru pada awal abad ke-20, namun industri tata rambut, khususnya di Amerika Serikat, justru semakin maju. Maka, pada tahun 1920-an dibentuk dua organisasi formal untuk mengatur profesi tersebut, yaitu Associated Master Barbers of America dan National Association of Barber Schools.

Perkembangan Barbershop di Indonesia

Tak hanya para perempuan, Para Pria juga ingin mempercantik penampilannya dengan berdandan. Salah satunya adalah dengan menata rambut rambut. Karena itulah mulai bermunculan tempat cukur pria atau Barbershop.

Di Indonesia sendiri, Barbershop sudah ada sejak jaman penjajahan Belanda. Salah satunya adalah barbershop yang bernama Ko Tang yang terletak di kawasan Petak Sembilan di Jalan Pintu Besar Selatan 3 dekat Pasar Glodok Pancoran Jakarta Barat. Barbershop, didirikan oleh almarhum Po Kin Tien seorang pengusaha Tiong Hoa.

Barbershop ini sudah ada sejak tahun 1936 dan masih melayani pelanggannya hingga kini. Meski pelanggan kini sudah menyusut karena sudah berusia 81 tahun, pelanggannya pun benar-benar orang tua. Sedangkan anak muda enggan ke barbershop ini, mereka lebih memilih ke barbershop modern.

Meski begitu, barbershop yang pernah mengalami kebakaran di tahun 2009 ini melayani pelanggannya dengan maksimal.
Setelah bercukur, biasannya para pelanggan dibersihkan telingannya. Seni mengoleksi telinga yang dipraktekkan oleh para pencukur rambut Ko Tang tidak sembarangan karena mereka belajar dari para pendahulu.

Barbershop sendiri sebenarnya tidak berbeda dengan tukang cukur pria pada umumnya. Hanya saja Barbershop dikemas dengan lebih modern.

Hingga saat ini keberadaan Barbersop di Indonesia terus berkembang pesat. Semakin banyak orang yang tertarik dengan bisnis Barbershop ini sehingga mulai banyak Barbershop-barbershop baru mulai bermunculan.

Banyak yang tertarik dengan bisnis satu ini tidak lain karena Barbershop memiliki keuntungan yang cukup besar karena bisnis ini menjual jasa dan hanya dengan modal yang relarif kecil.

Baca Juga  Ketahuilah Berikut Cara membuat konten menarik di media sosial

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *