Tanaman Hidroponik

Menjual sayuran hidroponik tidaklah sulit, Begini caranya

Sistem hidroponik cluster berkembang di berbagai kota. Pemain hidroponik rumahan bergabung untuk memenuhi permintaan pasar.

TerSurat.com Yogyakarta –  Setiap hari, Dr. Norman Imansyah Rizal SpTHT-KL pasien di sebuah rumah sakit dan praktek di Kota Palembang, Sumatera Selatan. Alumnus doktor Universitas Yarsi Jakarta Pusat ini ternyata juga pandai menangani berbagai macam sayuran. Di halaman depan rumahnya ia membangun tanaman hidroponik dengan 7.000 lubang tanaman. Ia memeriksa kesehatan tanaman pada pagi hari sebelum berangkat ke rumah sakit atau setelah tiba di rumah.

    Baca Juga : Simpel dan gak banyak makan tempat, inilah cara menanam tauge secara hidroponik

Norman mengirimkan sekitar 15 kg sayuran hidroponik ke hotel, supermarket dan restoran setiap hari. Jenis-jenisnya antara lain Lollo Rossa, Romaine, Butterhead, Junction, dan Kale. Dengan harga Rp 20.000 – Rp 35.000 per kg, omzet Norman dari perdagangan sayuran hidroponik minimal Rp 300.000 hingga Rp 5.250.000 per hari. Dengan hanya 22 hari kerja penjualan

Model cluster

Persediaan sebanyak itu sangat buruk, dan tidak hanya dari “tanah” itu sendiri, Norman hanya menghasilkan 10 kg sayuran sehari. Selama 7 bulan ia menjalin kemitraan dengan beberapa petani sayuran hidroponik di kota Palembang, Sumatera Selatan. Ia juga bekerja dengan 2 orang lainnya yang memilih menjadi plasma.

Lelaki berusia 40 tahun ini menampung seluruh produksi mitra, dari siapa mereka memenuhi standar kualitas (lihat: Persyaratan mutu sayuran Nirtanah, halaman 16-17). Menurut Norman, pasangan atau plasma memproduksi rata-rata 5-7 kg sayuran per hari. Namun jika ada acara, ia bisa mengambil 10-15 kg dari kebun lain. Dia mengemas sayuran dalam karangan bunga 250 g.

Sistem hidroponik gaya Norman yang bekerja dengan banyak petani saat ini menjadi tren di berbagai kota. Ahli hidroponis di Pondokcabe, Tangerang Selatan, Ir. Kunto Herwibowo, yang disebut dengan sistem hidroponik komunitas. Ada juga yang menyebut sistem cluster hidroponik. Apapun istilahnya, model hidroponik terdiri dari inti yang menjadi pelopor dalam membuka pasar.

Seiring dengan meningkatnya permintaan, dia membangun jaringan kemitraan dengan banyak petani. Sama halnya dengan Norman. Dua tahun lalu, Norman hanya sekedar hobi hidroponik dan membangun instalasi pipa bulat dengan 7.000 lubang tanaman. Di tengah kesibukannya di rumah sakit dan di lapangan latihan, Norman mengunjungi hotel, restoran, dan mall tempat ia menjual sayurannya.

Permintaan yang tinggi

“Kementerian Koperasi memandang kemitraan hidroponik sebagai alternatif koperasi pertanian perkotaan,” kata Syahrudin, Koordinator Kebun Hidroponik Omega.

Selain itu, Norman secara teratur mengirim ke kolega yang merupakan dealer dan satu lagi yang merupakan reseller. “Beberapa permintaan tidak dipenuhi karena produksi tidak mencukupi,” kata Norman. Belum lagi ada sekolah atau instansi yang berkunjung ke taman tersebut. Beberapa SD di Palembang mengantarkan siswanya ke taman Norman untuk mengenalkan hidroponik.

“Sekitar tengah hari seorang teman mengambil hasil panen dan menjualnya kepada pembeli. Setelah merawat tanaman, dia kembali bekerja di depan komputer dan melakukan pekerjaannya. Kegiatan merawat tanaman pagi dan sore hari merupakan kegiatan yang baru ia lakukan selama beberapa bulan terakhir ini. Imron memulai hobinya di bidang hidroponik sejak tahun lalu.

Standar keseimbangan

Orang-orang di Lembah Tidar sangat senang melihat sayuran yang baru dikemas di depan mata mereka. Pasar produk dari Hendrik, Imron dan rekan-rekannya kini terbuka lebar. Salah satu tantangan saat memulai usaha patungan adalah produksi dan standar kualitas. Ini merupakan kendala utama bagi hidroponik cluster. Maklum, tidak semua hobbyist memiliki pemahaman atau pengalaman yang sama.

Cluster pekebun hidroponik di Jombang, Jawa Timur, Madinah, sering mengalami kesalahpahaman dengan 30 mitranya. Mereka tergabung dalam Komunitas Hidroponik Jombang. Beberapa penghobi juga menghemat pupuk dengan mengurangi konsentrasi larutan nutrisi. Bagi sebagian orang, sayuran bukanlah masalah, warnanya agak pucat atau agak gosong.Tentu saja, sayur mayur bermutu rendah tersebut tidak laku. Eddy Setiawan, seorang biarawati di Balikpapan, Provinsi Kalimantan Timur, yang bekerja dengan 14 petani mitra, menghindarinya melalui pelatihan dan pemantauan rutin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *