Pasar Apung, Kekayaan tradisional dari Lok Baintan Banjarmasin, Kalimantan Selatan

Pasar Apung: Kekayaan tradisional dari Lok Baintan Banjarmasin, Kalimantan Selatan

Yogyakarta, Tersurat.com – Pasar Apung merupakan ikon kota Banjarmasin. Ada tiga pasar terapung di Banjarmasin. Pasar Terapung Muara kuin, Pasar Terapung Siring, dan Pasar Terapung Lok Baintan. Pasar tradisional ini memiliki ciri khas dari semua pedagang yang menjual produk mereka dengan “disiplin” di atas perahu tradisional.

Pasar Terapung Lok Baintan adalah yang sibuk dan paling terletak di Banjarmasin, hanya 10 km dari Swiss Belhotel Borneo Banjarmasin. Hotel ini menawarkan tour gratis ke Pasar Terapung Lok Baintan bagi mereka yang telah memesan di situs web. Aktivitas perdagangan di sini mulai dari 6:00 sampai 9:30 (GMT+8). Produk yang bisa Anda temukan di Pasar Terapung Lok Baintan antara lain sayur mayur, ikan, buah-buahan, kue, dan makanan tradisional.

Baca Juga : Jelajahi keindahan Air Terjun Kembar Tiu Teja yang ada di lereng Gunung Rinjani

Walaupun matahari belum keluar dari timur, tapi pedagang sudah bersiap. Tergantung waktunya, setelah himbauan setelah shalat Subuh bergema, mereka pun bergegas. Menyeberangi Sungai Martapura, melaju kencang menuju Pasar Lok Baintan, salah satu Pasar Terapung di BAnjarmasin yang sudah hidup sejak abad ke-18 silam.

Pada jukung sebagai nama perahu yang khas dari Banjarmasin, dalam khutbahnya pedagang membawa buah segar langsung dari kebun dan hasil pertaniannya. Buah-buahan seperti pisang dan mangga ditempatkan dengan indah di tempat-tempat khusus, sehingga dapat memikat hati calon pembeli. Beberapa toko menjual hidangan lokal sebagai souvenir serta perlengkapan berkebun.

Jukung bisa dilihat di sepanjang pantai Sungai MArtapura. Desa ini ramai, tetapi ada rasa persatuan yang kuat di desa Sungai Pinang (Lok Baintan) di daerah Sungai Tabuk, Kabupaten Banjar di Kalimantan selatan. Suara pedagang mulai terdengar pada pukul 6 pagi. Perahu dayung menjual barang kepada penduduk setempat dan turis. Itu tidak terpaku di lokasi pedagang dan pembeli, tetapi terus berjalan di sepanjang sungai sepanjang 600 kilometer.

Sebagian besar pengunjung kapal dagang dari pasar ini dapat memulai. Syaratnya, penumpang bersedia mengikuti instruksi saat akan menjual produknya. Uang tidak selalu dikatakan sebagai perdagangan utama di pasar ini, mereka masih melakukan barter antar pedagang seperti dulu.

Sayup-sayup suara berisik penjual yang menjual barang berhari-hari melebihi tengah hari membuat pusing. Ini menunjukkan bahwa perdagangan di pasar terapung akan segera berakhir. Datang saat matahari masih belum bersinar sampai pedagang pulang ke rumah sekitar jam 9.

Ada ratusan perahu di Sungai Martapura. Dalam jangka panjang, mayoritas pedagang Lok Baintan adalah perempuan. Mengenakan tutup kepala (tanggui), membuat terlihat berbeda. Beberapa wanita juga menggunakan tepung beras di wajah mereka atau biasa disebut bedak dingin. Bubuk dari olahan beras dipercaya dapat mendinginkan wajah pedagang perempuan ini.

Pedagang Lok Baintan tentu saja didominasi perempuan. Bukan tanpa alasan, tapi menurut warga sekitar, laki-laki sudah bertugas menyiapkan barang untuk dijual. Mereka saling berbagi pekerjaan, seperti menanam dan memanen buah. Waktu terbaik untuk mengunjungi Lok Baintan adalah hari Jumat. Pasalnya, pasar ini jauh lebih ramai dari biasanya karena hari Jumat merupakan hari pasar Apung tradisional.

Lok Baintan adalah salah satu yang bisa dijadikan pengalaman objek wisata yang menyenangkan bagi para pelancong. Pedagang itu dengan hangat menyambut semua pembeli dan pengunjung yang datang. Pasar ini sangat berwarna dan unik serta berisik, tapi sangat menyenangkan.

Pasar terapung ini tentunya memiliki sejarah yang panjang, dan tidak mengherankan jika keberadaannya tercatat sebagai warisan budaya tak benda Indonesia oleh Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya Direktorat Jenderal Kebudayaan.
Wisatawan yang mengunjungi pasar Lok Baintan hanya membutuhkan waktu 30 menit dari Kota Banjarmasin menuju Sungai Martapura. Jika ingin pergi ke pasar, pengunjung bisa menyewa klotok (perahu motor khas Kalimantan) di dermaga tepi sungai Martapura.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *